Puluhan Generasi Milenial Antusias Hadiri Diskusi Tangkis Penyebaran Hoaks

April 13, 2019, 1:41 pm


Bali News - Puluhan Generasi Milenial Antusias Hadiri Diskusi Tangkis Penyebaran Hoaks

Jakarta, BaliNewsOnline.com – Maraknya penyebaran hoaks mengundang keprihatinan banyak pihak. Salah satunya KOPRI PB PMII dengan menggelar diskusi Strategi Pemuda Milenial Tangkis Penyebaran Hoaks. Kegiatan ini dihadiri oleh kalangan pemuda milenial dengan berbagai latar belakang, mahasiswa, pekerja, aktivis dengan jumlah peserta diskusi sebanyak 50 orang.

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars PMII bersama-sama. Kehadiran peserta diskusi memang tidak terlepas dari ketertarikan mereka pada tema dan pemantik diskusi yaitu Ibu Wahida Suaib (Kemitraan Bawaslu RI), Bapak Didik Priyanto (Head of Content Islamic.co) dan Ibu Dahliah Umar (Ketua The Election School Project).

Menurut Sekretaris Jendral KOPRI PB PMII, Nurma Ningsing, diskusi ini dilakukan karena semakin maraknya berita yang tidak sesuai dengan fakta. Generasi milenial patut menyikapi dan menangkal hoaks yang ada.

“Generasi yang aktif menggunakan sosial media yang memberikan banyak informasi, lalu bagaimana kita mempu menilai mana berita yang hoaks dan tidak, sehingga pemuda milenial mampu memilah,” ucapnya, Kamis Malam (11/4/2019) di Cafe Kopi Jadi, Tebet, Jakarta Selatan.

Nurma menambahkan, kaum milenial harus mampu membaca kondisi sosial sehingga bisa menjadi garda terdepan pendangakal hoaks yang tersebar di media sosial.

Ketua The Election School Project, Dahlia Umar, salah satu pemantik diskusi menyebutkan, melalui tulisan menyampaikan bahaya hoaks, misalnya penelitian yang menghasilkan penelitian dimana pemilih rasional menjadi pemilih emosional.

“Menggunakan sosial media dengan memposting dan membuat caption yang mengarahkan pembaca untuk tidak terpengaruh pada berita hoaks,” tegasnya saat memaparkan materi.

Menguatkan Stetment Diana, Didik Priyanto, Head Of Content Islami.co, mengatakan yang bisa kita lakukan untuk berpartisipasi menyampaikan bahaya hoaks di era ini, yaitu butuh leader yang bisa mempengaruhi melalui konten, dan mengorganisasi masa dengan tindakan nyata.

“Misal dari grup wa keluarga, sehingga lambat laut mereka akan menyadari bahwa berita hoaks itu salah creating more contens exploring platform organizing people and actions,” kata Didik.

Kegiatan ini berjalan dengan lancar dengan gemuruh semangat peserta dari awal hingga akhir. (BNO-KSP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

search

Valuta asing